HEADER

testbanner

Alahan Panjang Tersendat: Suara Mahasiswa Menggema, Desak Solusi Nyata dari Pemerintah

SOLOK | Arus kendaraan tak lagi sekadar padat—ia berubah menjadi lautan besi yang nyaris tak bergerak. Pasca libur Lebaran 2026, kawasan Alahan Panjang di Kabupaten Solok kembali terjebak dalam skenario lama: kemacetan panjang yang mengular, menyisakan keluhan, kelelahan, bahkan frustrasi para pengguna jalan.

Sejak pagi hingga sore, deretan kendaraan terlihat merayap pelan, bahkan di beberapa titik berhenti total. Klakson bersahutan, pengendara saling menyalip mencari celah, sementara pejalan kaki harus ekstra hati-hati melintasi jalan yang nyaris tak menyisakan ruang.

Alahan Panjang, yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat, mendadak berubah wajah. Kawasan yang biasanya menawarkan kesejukan dan panorama indah itu justru dipenuhi kepadatan lalu lintas yang tak terkendali. Lonjakan pengunjung pasca Lebaran menjadi pemicu utama, namun persoalan lama kembali terkuak: minimnya kesiapan.

Di tengah kondisi tersebut, Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Solok angkat suara. Mereka menilai kemacetan yang terjadi bukan lagi fenomena musiman yang bisa dimaklumi, melainkan masalah berulang yang tak kunjung mendapatkan penanganan serius.

“Ini bukan sekadar soal ramainya pengunjung. Ini soal bagaimana manajemen lalu lintas gagal mengantisipasi situasi yang sebenarnya sudah bisa diprediksi setiap tahun,” tegas pernyataan resmi SEMMI Cabang Solok.

Menurut mereka, kemacetan di Alahan Panjang mencerminkan lemahnya perencanaan dan koordinasi lintas sektor. Pemerintah daerah dinilai belum memiliki strategi matang dalam menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat, terutama di momentum besar seperti Lebaran.

SEMMI mengidentifikasi sejumlah faktor krusial yang memperparah kondisi di lapangan. Salah satunya adalah minimnya rekayasa lalu lintas di titik-titik rawan macet. Tanpa pengaturan arus yang jelas, kendaraan dari berbagai arah bertemu dalam satu simpul yang sama, menciptakan penumpukan yang sulit diurai.

Selain itu, kondisi jalan yang relatif sempit turut memperburuk situasi. Infrastruktur yang ada dinilai tidak lagi mampu menampung volume kendaraan yang terus meningkat setiap tahunnya, terutama saat musim libur panjang.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah maraknya parkir liar di bahu jalan. Banyak kendaraan berhenti sembarangan di sekitar kawasan wisata dan pusat aktivitas warga, menyempitkan badan jalan dan menghambat laju kendaraan lainnya.

Di sisi lain, pengawasan di lapangan juga dinilai belum maksimal. Minimnya kehadiran petugas di titik-titik strategis membuat pelanggaran lalu lintas terjadi tanpa kontrol yang memadai.

Melihat kondisi ini, SEMMI Cabang Solok mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk tidak lagi bersikap reaktif, melainkan mulai mengambil langkah konkret dan terukur.

Penataan sistem parkir menjadi salah satu tuntutan utama. Mereka meminta agar pemerintah bertindak tegas terhadap parkir liar dan menyediakan kantong-kantong parkir yang memadai bagi pengunjung.

Selain itu, penerapan rekayasa lalu lintas saat puncak kunjungan dinilai sebagai langkah mendesak yang harus segera dilakukan. Skema seperti jalur satu arah atau pengalihan arus perlu dipertimbangkan demi mengurai kepadatan.

SEMMI juga menekankan pentingnya peningkatan kehadiran petugas di lapangan. Bukan hanya sebagai pengatur lalu lintas, tetapi juga sebagai pengawas yang memastikan aturan dipatuhi oleh seluruh pengguna jalan.

Untuk jangka panjang, mereka mendorong adanya solusi struktural, seperti pelebaran akses jalan dan penataan ulang kawasan wisata agar lebih ramah terhadap lonjakan pengunjung.

“Jika terus dibiarkan, ini bukan hanya soal macet. Ini soal kenyamanan masyarakat dan citra Alahan Panjang sebagai destinasi wisata unggulan yang bisa tercoreng,” lanjut pernyataan tersebut.

Di tengah kritik yang disampaikan, SEMMI tetap mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga ketertiban. Kesadaran berlalu lintas dinilai menjadi kunci penting dalam mengurangi beban di jalan raya.

Imbauan itu sederhana namun penting: patuhi aturan, ikuti arahan petugas, dan hindari perilaku yang dapat memperparah kemacetan.

Sebab pada akhirnya, kemacetan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga cerminan kedisiplinan bersama di ruang publik.


TIM

Posting Komentar

0 Komentar

SELAMAT MEMBACA, SEMOGA BERMANFAAT